Oleh TB Yasmin

Arthur G. Gish, tokoh yang sedang kita bicarakan ini, tak bisa dilepaskan dari kiprah Christian Peacemaker Teams (CPT). CPT adalah bagian dari sebuah gerakan non-kekerasan yang telah terbangun selama lebih dari 50 tahun terakhir. Salah satu dari kontribusi CPT paling penting di abad ke-20 adalah dikembangkannya teori dan strategi aksi langsung non-kekerasan. Dengan segera seseorang berpikir tentang Gandhi dan perjuangan kemerdekaan di India, Martin Luther King Jr. dan Gerakan Hak Asasi Manusia di Amerika Serikat.

CPT adalah bagian dari sebuah gerakan intervensi penduduk yang tengah berkembang dalam situasi konflik, seperti yang dicontohkan oleh kelompok-kelompok seperti Balkan Peace Teams, Peace Brigades International, Witness for Peace, dan Nonviolence International. Kelompok-kelompok ini melatih orang-orang biasa untuk pergi tanpa senjata memasuki situasi-situasi yang dipenuhi konflik. Di seluruh dunia orang-orang mulai menyadari bahwa perdamaian terlalu penting untuk diserahkan kepada pemerintah maupun para ahli.

Menurut Putut Widjanarko, salah seorang yang mengenal Art Gish ketika tinggal di Athens, Ohio, AS, Art tumbuh besar dalam lingkungan gereja yang menganut paham pasifis, atau paham mutlak anti-kekerasan. Paham ini menolak segala bentuk kekerasan. Dia telah aktif dalam kegiatan perdamaian selama 50 tahun, dan ikut terlibat dalam gerakan pembelaan hak-hak sipil serta bekerja bersama Martin Luther King, Jr. Art juga terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan anti Perang Vietnam. Setiap hari Senin, dia melakukan peace vigil selama satu jam di depan gedung walikota. Sering dia hanya sendirian, atau bersama istrinya, Peggy Gish, kalau yang bersangkutan juga sedang tidak keluar kota.

Apa yang dilakukan dan dipikirkan Art, terkait dengan aksi perdamaian dan aksi heroiknya ketika menghadang tank Israel, kini dapat dinikmati lewat karyanya yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Mizan. Judul karya Art dalam edisi Indonesia adalah Hebron Journal: Catatan Seorang Aktivis Perdamaian dari Amerika di Palestina yang Melawan Kekejaman Israel dengan Jalan Cinta dan Anti-Kekerasan. Buku karya Art ini merekam pengalaman seorang sukarelawan penjaga perdamaian di Palestina. Pada 1995 hingga 2001, Art Gish hidup bersama keluarga-keluarga Muslim dan melakukan aksi-aksi anti-kekerasan menentang kekejaman Zionis Israel.

Bagi para pencinta perdamaian, buku Art Gish ini tentu merupakan buku yang tidak dapat dilewatkan begitu saja.[]

Iklan