Oleh Moh. Sidik Nugraha

DALAM tingkatan pohon ilmu pengetahuan, sastra merupakan cabang ilmu paling tua sebelum filsafat, dan eksakta, karena sastra mengagungkan Tuhan dengan puja-puji terhadap keindahan alam sebagai bukti kebesaran-Nya. Sudah sejak lama, sastrawan lokal, nasional, dan internasional menjadikan alam sebagai sumber inspirasi.

Namun setelah Revolusi Industri, sastra pun terbawa arus yang mengharuskan semua serba rasional. Alam menjadi pusat eksploitasi manusia sehingga komunikasi antara manusia dengan alam bisa dikatakan nihil. Tidak ada pula penghargaan manusia kepada alam. Oleh karena itu, harus ada gerakan untuk memberi penyadaran kepada masyarkat luas.

“Tema ini (lingkungan dan kearifan lokal) menjadi penting karena menanamkan nilai-nilai mencintai alam. Ketika kita bicara lokalitas, maka tidak bisa tidak kita akan bicara soal lingkungan sekitar. Karena wajah sastra Indonesia yang sebenarnya merepresentasikan kultur lokal.”

Hal itu dikatakan Maman S. Mahayana, pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia ketika menjadi pembicara dalam “Seminar Sastra Hijau: Sastra, Lingkungan dan Kearifan Lokal” di Pusat Pengembangan dan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bahasa Jakarta, Jalan Gardu, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, Minggu (13/7/2008). Selain Maman, hadir juga sebagai pembicara Agus R. Sarjono (redaktur majalah sastra Horison), Ahmad Tohari (sastrawan sekaligus penulis Ronggeng Dukuh Paruk, novel yang mengangkat tema lingkungan dan kearifan lokal), dan Irfan Hidayatullah, Ketua Forum Lingkar Pena Pusat.

“Gerakan sastra hijau ini dahsyat dan mendesak sekaligus berbahaya,” kata Agus. Menurutnya, ada dua jebakan yang membahayakan sastra hijau ini. Pertama, jika penggiatnya jatuh pada eksotisme yang meneguhkan pandangan Barat atas Timur selama ini. Kedua, jika karya sastra hijau kembali ke nilai-nilai luhur masa lalu, tapi tidak melihat kenyataan sekarang. Namun, jebakan itu bisa diatasi dengan sikap kritis.

Mungkin, yang dimaksud eksotisme pandangan Barat atas Timur adalah penggambaran yang berkutat pada metafora-metafora keindahan alam, bahwa alam Timur adalah surga dengan hutan perawan, pantai yang indah, dan sungai yang elok. Jika demikian, akan terjadi pendangkalan besar-besaran karena kondisinya sudah berbeda. Jika dulu sastrawan melihat alam dan lingkungan sekitar sebagai sumber kekaguman, sekarang seharusnya alam menjadi sumber keprihatinan. Kata Maman, kesadaran akan kerusakan alam karena ulah manusia ini akan mengusung apa yang kemudian disebut aliran romantisme.

Dalam bahasa Ahmad Tohari, sastra hijau ini disebut sastra imani alias sastra yang mampu meningkatkan kesadaran hidup serta mengajak oran g bertasbih melalui pembacaan ayat-ayat kauniah. Ayat-ayat ini hadir sebagai seluruh unsur lingkungan yang telah membangun ekosistem di mana manusia, binatang, tetumbuhan maupun benda alam saling tidak bisa dipisahkan. Dan tanda paling utama dari adanya ekosistem yang terjaga adalah dominasi warna hijau tetumbuhan.

Dalam lingkup kearifan lokal, Ahmad Tohari bercerita tentang proses kreatifnya sebagai sastrawan:

“Sejak masa mengaji pada masa anak-anak sampai tumbuh dewasa saya menyadari bahwa hidup yang sejati adalah proses pendekatan diri kepada Allah. Maka seorang penulis yang benar-benar mencintai Allah akan mengajak serta manusia, hewan, tetumbuhan, air, angin, bebatuan, dalam karya-karyanya. “

Sementara itu Irfan Hidayatullah menyatakan, jika dilihat dari perkembangannya, perjalanan sejarah sastra terbagi ke dalam sastra ruang (alam), oran g, dan barang. Sekaranglah, saatnya sastra kembali menjadikan alam sebagai tema dengan memaknai sastra hijau sebagai gera kan sastra kembali ke fitrah atau ke asal, memuliakan bumi dan seluruh penghuninya. *** 

Iklan