Abdillah Toha  (Anggota Komisi 1, DPR RI)
(Kata Pengantar Buku The 3 Trilliun Dollar War – Mizan)

Sudah banyak sekali, bahkan mungkin ribuan tulisan, komentar, pidato, analisis, editorial, buku, dan segala bentuk komunikasi masa lain seperti demonstrasi, debat publik dan lainnya yang membahas invasi Amerika di Irak dan Afghanistan. Sebagian besar warga dunia mengutuk, terutama agresi Amerika Serikat di Irak,  kecuali sekelompok orang, perusahaan, negara atau organisasi yang diuntungkan atau merasa diuntungkan atau alasan lain..

Termasuk dalam kelompok akhir ini adalah perusahaan-perusaha an minyak Amerika yang meraih tambahan milyaran dolar laba dengan naiknya harga minyak mentah dunia, kelompok neocon sekitar presiden George Bush yang percaya bahwa Amerika dengan kekuatan militer dan ekonominya harus mendominasi dunia, kelompok penyokong Zionisme Israel yang tidak menginginkan ada kekuatan saingan di Timur Tengah, kelompok ekstrim kanan Kristen Amerika yang percaya bahwa Islam merupakan ancaman baru terhadap dominasi Barat paska perang dingin, kelompok pemerintahan tertentu yang beraliansi buta dengan Amerika seperti pemerintah Inggris dibawah Tony Blair dan pemerintah Australia dibawah John Howard, dan terakhir kelompok negara-negara tertentu di Eropa, Asia dan Afrika yang tidak berani menyatakan keberatannya kepada Amerika karena ketergantungan ekonomi dan politiknya.

Perang Irak adalah perang yang penuh tipuan, kebohongan publik, pelanggaran hukum internasional dan kejahatan perang dan kemanusiaan yang seharusnya dapat menyeret  mereka yang bertangung jawab ke pengadilan internasional sebagai penjahat perang. Perang ini pada dasarnya didorong oleh hawa nafsu imperialisme Amerika untuk menguasai sumber minyak di Timur Tengah. Kalaupun ini dianggap sebagai perang balas dendam terhadap serangan teroris sebelas September 2001 ke gedung WTC di New York yang membawa korban hampir 3000 orang, maka balas dendam itu sangat tidak proporsional karena mengakibatkan matinya lebih dari satu juta warga Irak, hancur leburnya ekonomi dan infra struktur Irak, larinya hampir lima juta penduduk Irak menjadi pengungsi ke luar negeri dan tewasnya 4,000 lebih serdadu Amerika, belum termasuk puluhan ribu yang cedera dan menderita sakit jiwa. Kebrutalan rezim Bush ini jauh lebih berlipat dibanding kekejaman Saddam Hussein yang digulingkannya.

Buku Stiglitz ini, yang bab-bab terakhirnya saya duga ditulis di Bali pada bulan Agustus 2007 lalu ketika penerbit Mizan mengundangnya untuk meluncurkan bukunya yang lain, adalah sebuah buku yang unik tentang perang Irak. Walau sudah ada beberapa tulisan tentang biaya perang di Irak, baru buku inilah yang membongkar dengan sangat terinci dan obyektif betapa pembiayaan untuk invasi Amerika di Irak jauh lebih besar dari bayangan setiap orang dan dari apa yang dilaporkan secara resmi oleh pemerintah George Bush.

Versi resmi pemerintah Amerika yang sebesar 500 milyar dolar itu saja sudah cukup mengejutkan. Sekarang, dengan perhitungan lebih teliti dan obyektif, Stiglitz dan Bilmes mengatakan bahwa biaya sebenarnya, bila dihitung biaya-biaya tidak langsung yang dipikul oleh pembayar pajak Amerika, sejauh ini sudah mencapai 3 triliyun dolar Amerika selama 5 tahun dan masih terus bertambah. Inipun belum termasuk beban bunga dan biaya-biaya ekonomi dan sosial yang tidak mudah di kuantifikasi yang harus dibayar oleh, bukan hanya rakyat Amerika, tetapi juga rakyat Irak dan warga dunia yang juga harus menanggung dampak ekonomi berupa melonjaknya harga energi dunia..

3 triliyun dolar Amerika itu setara dengan kurang lebih 28,000 triliyun rupiah atau sama dengan hampir 9 tahun Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang saat ini berkisar sekitar 3,500 triliyun rupiah setahun, atau 31 tahun APBN kita tahun 2008. Biaya perang yang sejauh ini mencapai 600 milyar dolar per tahun itu, bila digunakan untuk membangun gedung sekolah dan rumah sakit sederhana di negara-negara miskin, dapat mewujudkan enam juta sekolah atau 600,000 rumah sakit baru setiap tahun. Untuk perang yang tidak menciptakan perdamaian tetapi justru mewujudkan permusuhan dan ketidak stabilan dunia serta merugikan citra Amerika di dunia ini, rakyat Amerika harus membayar rata-rata 10,000 dolar per warga. Inipun dibebankan kepada generasi berikutnya karena pembiayaan perang ini tidak diambil langsung dari pendapatan negara melalui pajak, tetapi dengan pinjaman yang harus ditanggung oleh generasi mendatang.

Masa pemerintahan Bush tinggal tersisa kurang dari enam bulan lagi sebelum dia diganti oleh presiden baru. Dampak invasi di Irak ini dengan sendirinya akan menjadi warisan presiden baru nanti, apakah ia Barack Obama atau John MacCain. Baik yang menhendaki penarikan mundur atau yang ingin mempertahankan pasukan Irak disana, akan sama-sama menanggung risiko besar. Gore Vidal, seorang esais dan pengarang Amerika terkenal, bahkan memperkirakan dampak negatif pemerintahan Bush akan dirasakan Amerika sampai 100 tahun mendatang. Obama yang berjanji akan segera menarik tentara Amerika dari Irak secara bertahap akan menanggung risiko kekacauan dan perang saudara di Irak bila tentara Amerika ditarik. MacCain yang ingin bertahan berarti akan terus menguras uang negara untuk keperluan itu. Sementara itu George Bush yang sudah menjadi mantan saat itu, akan menjadi penonton dan menyalahkan penggantinya tanpa harus menghadapi pengadilan kejahatan perang dan kemanusiaan.

Baik Stiglitz maupun kandidat presiden Obama yang menentang perang Irak sebenarnya lebih banyak melihat dari sisi beban dan kerugian yang diderita Amerika dari petualangan Bush itu. Walaupun dalam buku ini Stiglitz juga membahas derita dan beban rakyat Irak, namun pada intinya analisis detail hanya dilakukan atas beban biaya yang harus ditanggung oleh pembayar pajak Amerika. Perlu sebuah buku lagi yang mengulas lebih dalam tentang dampak perang ini terhadap Irak dan rakyatnya yang masih akan menderita mungkin sampai berpuluh tahun setelah perang usai.

Sekarang Bush menyalahkan Iran atas kegagalan yang tidak diakuinya di Iraq. Suara ganas mengancam serangan ke Iran sudah makin sering terdengar dari mulut Bush dan sekutu setianya Israel. Walaupun banyak pihak menganggap hal itu hanya sekadar gertak sambal karena kecil kemungkinan Amerika menyerang negara lain ketika ratusan ribu tentara dan peralatan perang mereka masih terikat di Irak dan Afghanistan, namun bukan tidak mungkin sama sekali bahwa Bush yang keras kepala itu akan nekat melakukannya untuk menunjukkan kejantanannya atau demi mendukung calon presiden dari partai Republik. Kalau ini benar-benar terjadi, tak terbayangkan betapa akibatnya bagi kehancuran ekonomi, sosial dan kemanusiaan yang akan ditangung dunia.

Bagi kita di Indonesia, sikap kita selama ini sudah benar. Pemerintah Indonesia sejak awal menentang agresi Amerika di Afghanistan dan Irak. Kita berharap pergantian pemerintah di Washington pada 20 Januari 2009 mendatang akan mengubah haluan politik luar negeri Amerika yang arogan, brutal dan agresif menjadi hubungan internasional yang mengedepankan diplomasi dan soft power. Namun demikian, kita harus tetap waspada terhadap kemungkinan- kemungkinan lain. Kita perlu terus membangun kekuatan ekonomi yang mandiri dan pertahanan yang tangguh secara bertahap karena hanya kedua kekuatan itu yang bisa menjadi deterrent ( pencegah) bagi nafsu agresif kekuatan imperialisme baru. Saya pernah menulis, andai kata Osama bin Ladin tidak bersembunyi di Afghanistan tetapi lari berlindung di Cina atau Korea Utara, kemungkinan kecil Amerika akan berani menyerang kedua negara itu.

Buku ini perlu direnungkan oleh semua pemimpin dunia yang arif bahwa perang sering tidak menyelesaikan masalah. Perang bahkan menyisakan penderitaan dan biaya yang harus dibayar oleh beberapa generasi. Lebih-lebih lagi perang yang tidak adil dan mengabaikan hukum internasional seperti perang Irak terbukti mengakibatkan bencana kemanusiaan dan menghancurkan tatanan dunia yang beradab. Perang Irak dan Afghanistan juga mengingatkan kita kepada pelajaran lama yang dilupakan. Betapapun supernya kekuatan bersenjata suatu negara tidak selalu mudah menundukkan tekad perlawanan rakyat yang bergerilya untuk mempertahankan eksistensinya.

Jakarta, 16 Juni, 2008, Abdillah Toha, Anggota Komisi 1, DPR RI, [Terusan posting dari Ibu Sri A.]

Iklan