Oleh Aminuddin Siregar
Sudah umum diketahui kalau ketidakberdayaan rakyat kecil lebih besar ketimbang daya saing yang mereka miliki, baik dalam bidang kehidupan ekonomi, maupun dalam bidang politik. Rakyat kecil sebenarnya bukan
rakyat sebagian kecil, melainkan rakyat sebagian besar yang memiliki penghasilan perkapita relatif kecil dibanding penghasilan perkapita sekelompok orang yang punya penghasilan relatif lebih besar dari lainnya.

Rakyat kecil, tersebar dihampir semua pelosok tanah air. Mereka juga tidak saja bermukim di perkotaan, tetapi juga dipedesaan yang masa depannya teramat suram. Kalau kita amata dengan saksama, maka yang
kita rasakan ialah betapa mendungnya kehidupan mereka sehari-hari. Tapi siapa peduli dan siapa yang menganggap mereka itu sangat perlu adanya. Bahwa mereka itu adalah saudara-saudara kita, baik yang ada di
desa-desa maupun yang ada di kota-kota, yang perlu mendapat perhatian serius.

Rakyat kecil seperti juga kita ketahui, adalah kelompok masyarakat miskin. Kini jumlahnya amatlah tidak sedikit, laporan Biro Pusat Statistik, dipenghujung tahun lalu, mengindikasikan suatu kenyataan dan membuktikan bahwa jumlah penduduk miskin Indonesia meningkat tajam. Bukan saja lantaran sempitnya lapangan kerja, melaikan juga
karena mereka tidak berdaya melawan kompleksitas yang mengungkungi kehidupan mereka sehari-hari.

Mereka serba kewalahan menghadapi pergulatan mencari sesuap nasi, hari-kehari, waktu demi waktu,
bertahan hingga semua rasa sedih, lelah dan penat tidak dapat dirasakan lagi, telah berbaur menjadi satu.
Benar belaka, bahwa kemiskinan bukan masalah baru bagi kita semua, melainkan masalah lama yang sukar ditanggulangi. Problem ini menjadi problem serius bagi pemerintah dan lingkungan legislatif. Hingga hai-
hari belakangan ini persoalan kemiskinan menjadi semakin amat sangat ruwet.

Sebagian orang berpendapat bahwa mereka sendiri yang mesti mengatasi kesulitan mereka. Sebagian lagi mengatakan, bahwa mereka mesti dikeluarkan dari kompleksitas keseharian yang mengungkungi
mereka. Namun acap kali ketika ditemukan solusinya, disaat bersamaan bingung bagaimana cara melakukannya. Sehingga sebaik apa pun saja upaya yang dilakukan selalu menimbulkan efek dan mempunyai dampak dan
resiko-resiko.

Ketika dilakukan pendekatan, tidak seorang pun mau dikatakan miskin dan ketika dianggap sebagai orang miskin, disaat bersamaan dibantah keras dan memandang hal itu sebagai penghinaan terhadap harkat kemanusiaan dan ketidakberdayaan mereka. Orang desa tidak mau diberi label sebagai penyandang kemiskinan. Meskipun mungkin, ada juga yang secara sukarela dan tulus mengakui bahwa seseorang itu memang tergolong miskin. Sehingga persoalan kemiskinan menjadi dilematis dan dianggap sebagai hal yang krusial.

Menurut hemat banyak orang, tidak saja pendapat orang awam, tetapi juga para ahli, pengamat dan sejumlah pemerhati tentang kemiskinan, yang mesti memulainya ialah pihak pemerintah dan para wakil rakyat
yang ada dilembaga legislatif.Tapi apa mungkin para wakil rakyat kita yang ada dilembaga terhormat itu, mau menerjunkan diri bersama-sama dengan kalangan birokrasi, memainkan peran partisipatifnya ? Sementara
penderitaan mereka semakin menumpuk-numpuk.

RAKYAT DESA
Rakyat desa memang jarang mendapat perhatian serius, apalagi kalau kita menoleh ke waktu-waktu yang lalu, dan melihat keterpurukan yang sama-sama kita rasakan. Ketika subsidi bantuan langsung digulirkan
pemerintah, nampak semacam kegembiraan yang dapat mengobati luka nestapa kemiskinan. Namun, menjadi amat kontras ketika secara diam- diam, ada saja orang-orang tega berdiri di atas tulang-belulang
kemiskinan itu sendiri.

Ada saja yang menikmati ketidakberdayaan rakyat kecil. Memanfaatkan baju kemiskinan itu untuk berbagai label kepentingan orang per orang. Atau mungkin kepentingan kolektif kelompok tertentu mengatasnamakan
kemiskinan untuk kepentingan kelompoknya. Maka lengkaplah sudah wajah runyam kemiskinan yang kian membelit orang-orang yang tak berdaya.

Sebenarnya, meskipun ketidakberdayaan rakyat kecil jarang mendapat perhatian, tetapi kehadiran mereka perlu dalam panggung kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Daya dukung mereka memberi arti dalam sebuah proses, apakah itu namanya pemerintahan, perpolitikan, kehidupan sosial budaya dan seterusnya. Andil mereka ini acap kali terabaikan dan dianggap sebagai angin berhembus mengipas kegerahan atas reaksi yang muncul dari masyarakat. Jadi tidak ada alasan bagi siapa pun saja untuk tidak memberi perhatian terhadap
anggota masyarakat miskin alias rakyat kecil pada umumnya.

Walaupun rakyat kecil tidak punya daya saing, dan sering terpinggirkan atau mungkin tidak masuk dalam agenda prioritas kerja birokrasi dan hitungan legislatif, tetapi kita jangan lupa bahwa mereka itu punya daya dukung yang sangat kuat terhadap apa pun saja yang menjadi kebijakan pemerintah. Termasuk terhadap kelompok kepentingan politik.

Namun sayang wujud kepedulian terhadap mereka seringkali membawa akibat terhadap upaya meningkatkan daya dukung mereka, termasuk meningkatkan daya saing mereka dalam mengharungi kehidupan sehari-hari. Kalau saja setiap manusia baik sebagai individu maupun kelompok dapat melakukan empati, maka akan nampak di dalamnya kesungguhan hati.

Dengan kata lain harkat dan martabat kemanusiaan mereka mesti diposisikan dalam kapasitas kemanusiaaan, yang patut mendapat perhatian serius. Maksudnya, untuk mengangkat harkat dan martabat kesejahteraan mereka. Ketika lingkungan birokrasi dan lingkungan legislatif, baik pusat maupun daerah, tidak memainkan gaya partisipatifnya sekaligus memahami sifat kemiskinan rakyat, –yang nota bene, petani penggarap, pedagang kecil, tukang becak, para sopir, buruh dan seterusnya– ketika itu pula upaya menanggulangi kemiskinan sulit memastikan titik awal strategis memahami pola kemiskinan, khususnya dipedesaan.

Dengan demikian, hendaklah dikatakan bahwa, manfaat pembangunan apapun yang dibuat, mestilah lebih banyak dinikmati hasil-hasilnya oleh kelompok terbesar warga masyarakat miskin. Sauangnya, seolah-olah persoalan ini dianggap membebani. Sehingga banyak orang seringkali terperangkap dalam persepsi pola pikir yang diarahkan pada mereka yang ditimpa kemiskinan, secara tidak memihak kepada rakyat kecil. Bahwa mereka dianggap bisa dengan sendirinya keluar dari himpitan dan lubang besat kemiskinan yang kini kembali muncul dihadapan semua kita.

PEDULI RAKYAT KECIL
Jelas, kita tidak bisa begitu saja melupakan atau tidak peduli akan daya dukung rakyat kecil. Sebab sumbangsih mereka dan kecintaan mereka kepada negari ini sangat besar. Itu sebabnya antara lain mengapa misalnya Gus Dur, sangat marah ketika menjabat sebagai Presiden, mendengar ada perlakuan tidak adil terhadap rakyat kecil. Memang sulit membikin keadaan menjadi lebih baik, bilamana gaya partisipatif kalangan birokrasi dan legislatif tidak dirasakan oleh rakyat pada umumnya. Tidak mengherankan kalau banyak orang melihat dan mencermati adanya kegagalan birokrasi dan legislatif, dalam memainkan peran partisipatifnya.

Adalah benar belaka ketika penanggulangan kemiskinan yang dilakukan melalui bantuan langsung yang dibagi-bagikan kepada rakyat kecil, merupakan langkah positif dan sebagai awal yang dapat mengurangi beban
mereka baik secara psikologis maupun secara ekonomis. Keadaan ini mestilah dilihat sebagai pilihan tepat dan upaya sadar membantu rakyat miskin keluar dari kemelut hidup yang dihadapi warga dan rakyat
miskin. Baik diperkotaan maupun dipedesaan.

Namun harus juga kita lihat sisi terburuk dari bantuan langsung, seperti sama-sama kita saksikan. Ternyata telah menimbulkan persoalan baru. Baik yang menyngkut data maupun yang berkaitan langsung dengan kenyataan yang dihadapi oleh petugas lapangan. Kalaupun ada yang mengalami perubahan nasib mungkin hanya segelintir orang saja yang memanfaatkan bantuan langsung itu untuk menolong dan mengangkat harkat dan martabat kesejahteraan masing-masing individu.

Dalam semua konteks diatas, maka agak sulit bagi kita memastikan, apakah problem ini tidak memengaruhi kondisi warga desa. Jika memengaruhi, maka yang terlihat ialah lubang besar kesengsaraan yang kian menganga. Bila tidak memmengaruhi, maka yang terlihat tetaplah kesenjangan. Rakyat kecil dan orang-orang miskin tertindas, terus
meratap, menjerit. Tantangan ini merupakan hal yang mesti diharungi oleh pemerintah dan legislatif, agar manfaat penanggulangan yang dilakukan tercurah sepenuhnya untuk kepentingan mengangkat kualitas hidup dan kesejahteraan rakyat miskin.

Upaya itu mestilah sejauh dan sedalam mungkin memperjuangkan nasib rakyat kecil, hingga mereka tidak lagi merasakan tekanan kemiskinan. Dengan kata lain terbebas dari belitan kemiskinan, keluar dari lubang
yang menganga lebar, terhindar dari himpitan hidup. Setidaknya jumlah orang miskin berkurang dari waktu kewaktu dan kembali pada kehidupan wajar, normal dan yang terpenting sejahtera, artinya berada di atas garis kemiskinan, bukan di bawah garis kemiskinan. Mungkinkah ?

Penulis adalah Staf Pengajar Pusdiklat Depdagri Regional Bukittinggi

Iklan