10 Juta Lebih Orang Indonesia Buta Aksara

Tinggalkan komentar

JAKARTA – Departemen Pendidikan Nasional memperkirakan lebih dari 10 juta warga Indonesia tak bisa membaca. Penduduk buta aksara terbanyak berada di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara.
“Jumlah itu setara dengan 6,21 persen penduduk,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal Departemen Pendidikan Nasional Hamid Muhammad dalam jumpa pers “Hari Aksara Internasional” di Jakarta kemarin.
Angka itu, kata Hamid, turun dibanding akhir 2007, yang mencapai 11,8 juta atau 7,3 persen. “Pemerintah optimistis bisa turun hingga 5 persen pada akhir 2009,” kata dia.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan angka buta aksara menurun sejak tahun 2000. Dari 205,6 juta penduduk saat itu, 18,18 juta atau 9,6 persen di antaranya buta aksara. Pada 2003, jumlahnya turun menjadi 15,41 juta atau 7,4 persen dari 213,6 juta jumlah penduduk. Lagi

Iklan

Cara Mencapai Puncak Tujuan Membaca

Tinggalkan komentar

TIMBANGAN BUKU Sumber : Harian Kompas,  2007

Oleh ONI SURYAMAN

Membaca adalah symbol sebuah peradaban. Ia membedakan peradaban maju dengan primitive, antara Negara maju dan Negara berkembang. Melihat begitu pentingnya membaca, ia pun dijadikan salah satu indeks bagi pembangunan manusia, yang sering dijadikan ukuran keberhasilan pembangunan sebuah Negara.

Membaca memiliki tiga fungsi. Pertama, memberikan informasi, misalnya dengan membaca Koran dan majalah. Yang kedua, memberikan hiburan, misalnya dengan membaca novel. Yang ketiga, yang paling penting tetapi sekaligus paling sulit, memberikan pengertian. Sebuah buku bisa saja memberikan pengertian sekaligus menghibur dan memberikan informasi.

Modernisasi telah menawarkan substitusi bagi kegiatan membaca, dengan lahirnya media audio-visual. Kehadiran audio-visual membuat informasi menjadi lebih “nyata” ketimbang membaca, tetapi di lain pihak mengurangi bahkan meniadakan daya cerna pemirsa. Sesuatu yang mutlak dibutuhkan dalam membaca untuk mencari pengertian. Lagi

Obligasi tahun 1948 dilelang

Tinggalkan komentar

Sumber : BBC Siaran Indonesia, Diperbaharui pada: 02 Oktober, 2008 – Published 11:35 GMT

Uang kertas 1 Juta Poundsterling
Penjualan dilakukan lewat lelang di London

Surat oblitasi bernilai 1 juta poundsterling berhasil dilelang dengan harga £78.300, dua kali harga perkiraan semula.

Lelang dilakukan di kota London.

Surat obligasi, dengan nomor 000008, diterbitkan setelah Perang Dunia Ke II sejalan dengan paket bantuan yang dikenal dengan nama Marshall Plan.

Marshall plan adalah program pendanaan Amerika Serikat untuk membantu Eropa Barat bangkit setelah konflik tahun 1939-1945 itu.

Tahun 1977 satu surat obligasi lain, dengan nomor 000007, terjual dengan harga delapan ribu poundsterling melalui penjualan dibalik layar. Lagi

Graveyard’s a nurturing place in Gaiman’s new book

Tinggalkan komentar

Sumber : Yahoo! News via Yahoo! Alerts to Book Hunger Club

By JEFF BAENEN, Associated Press Writer Mon Sep 29, 6:10 PM ET

MINNEAPOLIS – Cemeteries don’t scare Neil Gaiman. Far from it. The best-selling author of horror and fantasy fables finds them “incredibly peaceful places.”

“I love going to graveyards. I love going to graveyards not because they’re spooky, but because there’s something marvelously restful. You know, you’ve got all these headstones. They have these wonderful little messages on them,” Gaiman says.

Gaiman’s new novel, “The Graveyard Book,” takes place in a cemetery, where an orphaned boy is raised by a vampire, a werewolf and a witch. The seed for the idea was planted some 25 years ago, Gaiman says, when he was living in his native England and would take his young son Michael to ride his tricycle in a nearby cemetery, since there was no real garden or yard at home.

Inspiration struck. Gaiman thought he could write a book similar to Rudyard Kipling’s classic “The Jungle Book,” about a child adopted by wild animals. Instead, Gaiman would write about a child “who is adopted by dead people and taught all the things that dead people know.”

After more than two decades of starts and stops, Gaiman finally finished “The Graveyard Book” last year. To kick off publication, Gaiman launches a U.S. tour this week, reading a chapter of the eight-chapter book in each city (one long chapter will be split in two). Video of each reading will be posted the next day on Gaiman’s new, kid-friendly Web site, http://www.mousecircus.com, where fans can view it for free. When Gaiman wraps up the tour Oct. 8 in St. Paul, he will have read the entire 312-page book. Lagi

Book ban ends rare Arab-Israeli cultural exchange

Tinggalkan komentar

Sumber : Yahoo! News via Yahoo! Alert to Book Hunger Club By Joseph Nasr Tue Sep 30, 10:41 PM ET

HAIFA, Israel (Reuters) – For 15 years Israeli Saleh Abbasi has traded books between the Jewish state and its Arab neighbors, fostering a rare cultural link.

But in August Israeli authorities suddenly refused to renew his trading license because he was trading with “enemy” states Lebanon and Syria, frustrating both Abbasi’s business and the Arab and Israeli readers he has helped interest in each other’s literary traditions.

“How can the People of the Book be against books?” Abbasi asked, evoking the Jewish Bible as the first monotheistic holy text. “Books are a bridge to peace between cultures.”

An Israeli Trade Ministry spokeswoman declined to explain the timing of the ban. But she cited a recent legal opinion that forbade importing goods from four countries Israel views as enemies — Iran, Iraq, Syria and Lebanon. Lagi

Kesadaran Membaca dan Menulis

Tinggalkan komentar

Oleh Media Baca

Sekarang, kesadaran membaca dan menulis sangat signifikan di kalangan masyarakat, baik awam maupun profesional. Kesadaran ini diilhami oleh pentingnya membaca bagi keberlangsungan masa depan yang dinamis dan maju. Secara lokal, Indonesia mungkin masih dianggap ketinggalan menyadari pentingnya membaca dibandingkan dengan negara-negara lain yang telah maju lebih dahulu. Wajar saja, Amerika dan Eropa mendapatkan prestasi besar dalam dunia pradaban modern kini, sebab mereka 15 tahun ke belakangnya telah memiliki kegemaran dan kesadaran pentingnya membaca. Lagi